|
Aceh Tenggara |
Monday, September 10, 2007 |
Kabupaten ini berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut, yakni bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Taman Nasional Gunung Lauser yang merupakan daerah cagar alam nasional terbesar terdapat di kabupaten ini. Pada dasarnya wilayah Kabupaten Aceh Tenggara kaya akan potensi wisata alam, salah satu diantaranya adalah Sungai Alas yang sudah dikenal luas sebagai tempat olah raga Arung Sungai yang sangat menantang. Secara umum ditinjau dari potensi pengembangan ekonomi, wilayah ini termasuk Zona Pertanian. Potensi ekonomi daerah berhawa sejuk ini adalah kopi dan hasil hutan. Dalam bidang Pertambangan, Aceh Tenggara memiliki deposit bahan galian golongan-C yang sangat beragam dan potensial dalam jumlah cadangannya.
Wisata:
Rumah Adat Suku Alas Lokasi: 121 km dari Kabupaten Aceh Tenggara Balai Adat Sepakat Segenap Lokasi: 1 km dari Kabupaten Aceh Tenggara Museum Sepakat Segenap Lokasi: Kutacane Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 4:08 PM
 |
|
|
Aceh Tengah |
|
Kabupaten Aceh Tengah dengan ibu kota Takengon, berlokasi di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut dengan pemandangan alamnya yang indah. Danau Laut Tawar, sebuah danau yang terbesar di Aceh bukan saja memberikan tambahan keindahan alam di wilayah ini tetapi memberikan tambahan potensi lain diantaranya potensi ikan air tawar.Di sektor Perkebunan, KOPI adalah komoditi kebanggaan Aceh Tengah. Terkenal dengan nama Kopi Gayo, jenis kopi Arabica yang tumbuh subur dikawasan dataran tinggi Gayo dengan ketinggian antara 1.200 - 1.600 m di atas permukaan laut.Hortikultura mencatat prestasi peningkatan yang menggembirakan adalah Jeruk Keprok, Durian
Wisata:
Danau Laut Tawar 
Lokasi: Kabupaten Aceh Tengah Pacuan Kuda (Lokasi: 0,5 km dari Kabupaten Aceh Tengah)  ACEH Tengah dikenal sebagai penghasil kuda gayo. Kuda tersebut bukan untuk menarik pedati atau tunggangan wisata, melainkah untuk membajak sawah. Selain untuk membajak, kuda yang terbaik biasanya dipakai untuk pacuan. Masyarakat Dataran Tinggi Gayo memang "gila" pacuan kuda. Namun, jangan bayangkan pacuan kuda di Takengon, ibu kota Aceh Tengah, sama seperti pacuan kuda umumnya. Pacuan kuda di Takengon lebih menyerupai pacuan kuda ala koboi yang biasa terlihat dalam film-film laga. Sama-sama liar, keahlian joki didapat alami, dan tanpa aturan detail. Hanya saja, jika para koboi masih memakai pelana dan beseragam keren, joki pacuan kuda di Takengon lebih berani lagi. Para joki di Takengon bertanding tanpa pelana, cukup memakai kaus dan celana pendek kumal yang biasa dipakai sehari-hari, serta tanpa pelindung tubuh lainnya. Betul-betul alami. Para joki biasanya anak-anak seusia sekolah dasar. Mereka biasanya bertanding tanpa "kontrak" dengan pemilik kuda. Bahkan, dalam banyak kasus para joki hanya dicomot mendadak saat akan bertanding. Memang ada juga sejumlah joki yang berlatih sebulan sebelum bertanding, namun jumlahnya sangat terbatas. Jangan tanyakan berapa bayaran joki yang diperoleh dari pemilik kuda ketika bertanding. "Ya seikhlasnya saja, kalau mau ngasih boleh, kalau tidak juga tidak apa-apa," kata Zuhrupan Daman, pemilik kuda pacuan sekaligus Wakil Ketua Ikatan Penggemar Pencinta Kuda Pacu (IKPPKP) Aceh Tengah. Selain tradisional dan masih alami, pacuan kuda ini unik, karena kolosal lebih dari 300 kuda dengan waktu penyelenggaraan satu pekan. Hanya kuda terbaik yang berhak memasuki babak final. Selain kolosal, pacuan kuda gayo-kabarnya-juga penuh mistik. "Mereka yang mempunyai kuda pacu ada-ada saja caranya untuk memenangi pertandingan, ada yang memandikan kudanya malam hari di sungai, ada yang menyembelih ayam di tengah lapangan, pokoknya unik-unik pacuan kuda di sini," kata Daman. Kini hobi pacuan kuda telah difasilitasi Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan membuatkan lapangan pacuan kuda Blang Bebangka Pegasing.(kompas) Alas River -The Alas River, 165 km southeast from Takengon, cuts through the Gunung Leuser National Park. This area is especially popular among the young and adventurous. The sharp bends and many rapids are challenging to white-water rafters. 
| The Governor's Residence -Built by the Dutch in 1880 on the spot where the palace of the sultan once stood. This building is known as one of the historical sites with a unique architecture and completed with traditional house equipments. | Lake Laut Tawar -Located near Takengon, in the highlands of Cental Aceh, is very scenic. It has soaring cliffs around the shore which are ideal for rock climbing. The lake is also stocked with trout. There are warm water pools at Simpang Balik. Many caves dot the lake's surroundings, Loyang Koro and Loyang Pukes caves by the side of Lake Laut Tawar are interesting to explore. Motorboats can be hired for fishing and sightseeing. | Syiah Kuala Grave -Syiah Kuala grave is another pride of Banda Aceh, which is located about 3 km to the east. Syiah Kuala was one of Aceh's great Moslem Ulama of the past. He had spent more than 15 years in Mecca for religious learning before he dedicated most of his life to science and society. He had written many books on Islam, social studies, and science. He also had a lot of student coming from Malaysia, West Sumatra and Java. (mostly destroyed because of Tsunami) Ulee Lheue Ulee lheue is an old port where one can see many typical villages are surrounding area. There is also beach, which is visited regularly by local people early in the morning every Sunday morning. The beach is also popular for fishing on holiday. (mostly destroyed by Dec '04 Tsunami and over 85% of its population killed) |
Taman Buru Lokasi: 50 km dari Kabupaten Aceh Tengah Loyang Karo Lokasi: 19 km dari Kabupaten Aceh Tengah Makam Datu Beru Lokasi: 25 km dari Kabupaten Aceh Tengah Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 4:00 PM
 |
|
|
Aceh Selatan |
|
Kabupaten Aceh Selatan secara ekonomi terletak pada jalur yang stategis, yakni sebagai gerbang wilayah barat - selatan yang menghubungkan Medan sebagai pusat pengembangan nasional wilayah Sumatera Utara dengan kota Banda Aceh Ibukota Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Hal ini dikarenakan hubungan kedua wilayah tersebut sudah dapat ditempuh melalui jalan aspal hotmik yang mulus. Tapaktuan adalah Ibukota Kabupaten Aceh Selatan, juga terkenal dengan sebutan "Kota Naga", merupakan kota pantai dengan pelabuhan samudera-nya yang ramai. Wisata: Air Terjun Tujuh Tingkat Lokasi: 4 km dari Kabupaten Aceh Selatan Ulee Dep Lokasi: 80 km dari Kabupaten Aceh Selatan Kuta Batee Lokasi: 75 km dari Kabupaten Aceh Selatan Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 3:54 PM
 |
|
|
Aceh Utara |
|
Kabupaten Aceh Utara tergolong sebagai kawasan industri terbesar di Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan juga tergolong industri terbesar diluar pulau Jawa. Khususnya dengan dibuka industri pengolahan gas alam cair PT. Arun LNG di Lhokseumawe pada tahun 1974. Di daerah wilayah ini juga terdapat pabrik-pabrik besar lainnya : Pabrik Kertas Kraft Aceh, pabrik Pupuk AAF (Aceh Asean Fertilizer) dan pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM). Dalam sektor pertanian, daerah ini mempunyai unggulan reputasi sendiri sebagai penghasil beras yang sangat penting. maka secara keseluruhan Kabupaten Aceh Utara merupakan daerah Tingkat II yang paling potensial di Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan pendapatan perkapita diatas paras Rp. 1,4 juta tanpa migas atau Rp. 6 juta dengan migas. Dibidang agama penduduk Aceh Utara adalah penduduk yangberagama Islam yang taat beragama dalam tahun 1994 tercatat 782 orang yang berangkat naik haji. Wisata :
Pantai Ujong Blang Lokasi: 3 km dari Kabupaten Aceh Utara Pantaiku oh pantaiku......sekarang tinggal kenangan, setelah terkena tsunami dan abrasi pantai

Peninggalan Kerajaan Samudera Pase
Lokasi: 18 km dari Kabupaten Aceh Utara Makam Nahrisyah Lokasi: 18 km dari Kabupaten Aceh Utara Rumah Adat Cut Meutia Lokasi: 30 km dari Kabupaten Aceh Utara Museum Malikussaleh Lokasi: Lhok Seumawe
Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 2:07 PM
 |
|
|
Aceh Timur |
Tuesday, September 04, 2007 |
Kabupaten Aceh Timur adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan Propinsi Sumatera Utara. Dalam sejarah pertumbuhan ekonomi wilayah ini merupakan daerah lebih dahulu maju karena berkembang perkebunan karet dan kelapa sawit dan kemudian diikuti oleh daerah lain.di Peureulak untuk pertama kali minyak bumi diketemukan dan dieskploitasi di Indonesia. Dalam dominasi kegiatan ekonomi, Aceh Timur termasuk dalam zona industri, dimana tercatat 6 industri dasar, 31 aneka industri dan lebih dari 3.000 industri kecil. Di bidang agama Aceh Timur terdapat 906 buah mesjid dan mushalla serta 95 madrasah. Dengan demikian tercatat sebagai Kabupaten di Aceh yang memiliki sarana agama yang paling banyak. Di Aceh Timur juga terdapat daerah pertanian yang cukup luas yaitu 40.604 Ha yang mana 13.984 Ha diantaranya masih berupa sawah tadah hujan.disektor perikana laut dalam tahun 1993/1994 terjadi peningkatan penangkapan yaitu 14.179,8 ton. Pada sub sektor perkebunan tahun 1993/1994 Aceh Timur melaksanakan kegiatan pengembangan perkebunan melalui menasah-menasah yang merupakan kegiatan yang dikembangkan secara luas di Aceh. Wisata: Telaga Tujuh Lokasi: 15 km dari Kabupaten Aceh Timur Kuala Beukah Lokasi: 44 km dari Kabupaten Aceh Timur Manisan Lokasi: 40 km dari Kabupaten Aceh Timur Bukit Kerang Lokasi: 40 km dari Kabupaten Aceh Timur Beteng Kerang Lokasi: 60 km dari Kabupaten Aceh Timur Labels: Pariwisata Aceh |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 5:12 PM
 |
|
|
Aceh Barat |
|
Kabupaten Aceh Barat memiliki kawasan pantai yang paling indah di seluruh Daerah Istimewa Aceh, karena berhadapan dengan laut lepas Samudera Indonesia. Dibeberapa tempat, pantainya berdinding tegak dipagari oleh bukit-bukit berhutan lebat. Keindahan senja di sepanjang Aceh Barat sangat indah karena merupakan daerah tempat tenggelamnya matahari. Sejak masa lalu, Aceh Barat terkenal dengan perkebunan karet dan kelapa sawit. Sampai sekarangpun masih tercatat memiliki Perkebunan Rakyat yang terluas di seluruh Daerah Istimewa Aceh. Dalam hal produksi daging unggas dan telur, kabupaten ini tercatat sebagai penghasil terbesar kedua setelah Pidie. Di Aceh Barat diketemukan cebakan batu bara yang sangat besar, yang oleh para ahli pertambangan daerah cebakan tersebut disebut "Cekungan Meulaboh". Dibidang keagamaan, Aceh Barat memiliki 840 buah mesjid dan musholla, 67 buah pesantren. Dengan demikian Aceh Barat tercatat sebagai tiga kabupaten yang terbanyak memiliki sarana keagamaan di Daerah Istimewa Aceh. Wisata: 
Gunung Geurutee Lokasi: 170 km dari Kabupaten Aceh Barat  Makam Teuku Umar Lokasi: 12 km dari Kabupaten Aceh Barat Makam yang berada di kawasan terpencil didalam hutan. Untuk sampai kesini, memerlukan satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat dari kota Meulaboh. Kawasan ini disebut Meugo. Makam ini, bukan makam pertama bagi Teuku, rekan yang mengantar saya, ini adalah makam yang kedua. Mengapa? Karena para pejuang "Tanah Rentjong", tidak ingin jasad syahid ini, menjadi alat propaganda untuk meruntuhkan moral dan tekad perjuangan rakyat Aceh. Sehingga, jasad beliau sengaja disembunyikan dari intaian penjajah.
Makam ini dilengkapi dengan balai - balai untuk pengunjung yang hendak melakukan ritual ibadah seperti tadarus atau sholat, dapur umum dan alat-alat masak secukupnya dan lapangan yang digunakan untuk upacara ketika memperingati hari Pahlawan setiap tanggal 10 Nopember.
Yang istimewa di kawasan makam ini adalah, ada pohon (konon merupakan tongkat yang digunakan untuk tandu Teuku Umar, yang ditancapkan begitu saja dan tumbuh sampai saat ini) yang mampu menampung air. Istimewanya air yang tertampung diantara pohon tersebut tidak pernah habis untuk di minum sampai ribuan orang. Demikian juga, tak pernah kering kala musim kemarau. Sehingga, bagi yang mempercayainya, air ini dapat digunakan sebagai obat bagi anak-anak yang terkena demam, dan penyakit ringan lainnya. Labels: Pariwisata Aceh |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 4:24 PM
 |
|
|
Pidie |
|
Kabupaten PIDIE, bersama-sama dengan Kabupaten Aceh Utara dikenal sebagai penghasil beras utama wilayah Daerah Istimewa Aceh. Penduduk PIDIE sepanjang sejarah terkenal sebagai orang-orang berdarah perantau. Banyak perantau dari Pidie yang berhasil di perantauan, sehingga Pidie dikenal sebagai tempat asal orang-orang pintar dari Aceh.Sebagian besar penduduknya hidup dari pertanian (70%), diikuti perdagangan (12%), jasa (7,2%). Dalam tahun kerja 1993/1994 digalakkan penyuluhan/pembinaan Budidaya Ikan Payau (UPBAD). Sedangkan Pemerintah Daerah Tk. II Pidie di dalam upaya melakukan deversifikasi tanaman tengah meningkatkan budidaya tanaman melinjo. Dalam sektor Industri Kecil, Pidie berhasil menyerap 5,38 % tenaga kerja dari jumlah penduduknya yang dalam catatan statistik 1993, ditampung oleh 876 Industri Kecil Formal dan 6.287 industri non formal.Telah digalakkan pula pembinaan pengrajin sulaman benang emas dan pengrajin bordir. Banyaknya jumlah Industri Kecil di daerah ini serta pertumbuhannya yang begitu pesat, telah memberikan andil bagi Kabupaten Pidie untuk mendapatkan tempat dalam kategori Zona Industri. Dibidang agama di Pidie terdapat 531 mesjid dan mushalla serta 61 pesantren. Pada tahun 1993/1994 terdapat 339 orang yang naik haji. WISATA: Pasi Rawa Lokasi: 4 km dari Kabupaten Pidie Sumber Air Panas Lokasi: 34 km dari Kabupaten Pidie Gua Tujuh Lokasi: 28 km dari Kabupaten Pidie Makam Putro Balee Lokasi: 3 km dari Kabupaten Pidie Labels: Pariwisata Aceh |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 4:07 PM
 |
|
|
Aceh Besar |
|
Kabupaten ini mulanya beribukota di Banda Aceh. Tahun 1986 mendirikan ibukota baru yang bernama Jantho. Jenis-jenis kerajinan yang dihasilkan yaitu : bordir, anyaman, kopiah, kerajinan rotan, dan kerajinan rencong Aceh. Kabupaten Aceh Besar memiliki potensi pariwisata alam yang masih murni, seperti air terjun teuhom, air terjun Peukan Biluy. Sumber air panas seperti : Ie Seuum dan juga pantai-pantai yang indah dengan pasir putih dan air yang jernih yaitu antara lain : pantai Lhok Nga, pantai Lampuuk kemudian pantai cemara dengan keindahan matahari terbenam yang sangat mempesona. Kabupaten Aceh Besar juga disinggahi kapal terbang karena daerah tersebut menjadi tempat pelabuhan udara Sultan Iskandar Muda dan juga memiliki pelabuhan laut yaitu pelabuhan laut Malahayati yang terletak di Krueng Raya. Mandi di Kolam Putri
KONON, Putri Hainunim nyaris saban tengah hari bersenda gurau di kolam perbukitan dekat istanannya itu. Anak Raja Biluy ini meminta sang ayah agar membiarkan pemandiannya tetap alami. Begitu cerita lama, ihwal pemandian air terjun di kerajaan kecil bernama Biluy.
Meski kerajaan yang tunduk di bawah Sultan Alaidin Mahmud Daud Syah ini sudah tiada lagi, namun keasrian kolam seluas 10 x 8 meter itu masih terpencar hingga kini. Siapa saja, yang mandi di kolam sedalam 1,5 meter ini takkan bisa sekejab saja.
Setiap akhir pekan, ratusan warga ke sana. Tak hanya untuk mandi, tapi juga mancing. Lokasinya, sekitar 50 meter ke bawah hilir. Sungai kecil sedalam 2-3 meter ini menjadi istana ikan gabus, lele, belut bahkan kerling.
Tak perlu repot mikir umpan, gali saja sedikit tanah sekitar lokasi, berhamburan cacing umpan wahid ikan air tawar. Bila ‘elergi’ cacing, tangkap saja belalang yang hinggap di daun, itu juga santapan favorit ikan. Singkatnya, cukup kail saja.
 Rimbun Asmara Sekedar info saja, Biluy juga punya padang kecil ditumbuhi naleung sira (Criosat). Ini tempat rehatnya putri Hainunim. Kini, lokasi ini lekat dengan nama Rimbun Asmara. Maklum, muda-mudi acap memilih tempat ini untuk memadu asmara sambil menikmati kicau burung dan gemericik air.
Ingin melihat? Naik saja jajaran tangganya, jaraknya dari pemandian sekitar 50 meter. Tapi ingat, majalah ini tidak merekomendasikan untuk khalwat.
Bagi Anda yang gemar mandi seperti putri, bila lelah istirahatlah di bangku-bangku terbuat dari kayu dan beton, jaraknya hanya beberapa langkah dari kolam. Sayangnya, di sini tidak ada warung. Jadi bekal bawa saja sendiri.
Saat Aceh diterapkan darurat militer, tempat ini “mati suri”. Tanpa pengunjung sama sekali. Padahal sebelumnya, ada kebun binatang mini yang memikat pengunjung.
Sebelum status darurat militer, di kebun binatang, kala itu ada beberapa satwa dilindungi sebut saja misalnya orang hutan, beruang, burung rajawali, ular dan kucing hutan.
Anda terpikat berkunjung? Ayunkan saja langkah ke Peukan Biluy Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar, kira-kira 22 kilometer arah utara kota Banda Aceh. Harus mengunakan kenderaan pribadi. Soalnya, tidak ada angkutan umum yang mengantar anda hingga lokasi. Kecuali ojek, ongkosnya Rp 20.000.
Di sepanjang perjalanan Anda menjumpai desa-desa kecil yang asri. Di sana bisa membeli makanan, minuman dan buah-buahan untuk bekal.
Tiga kilometer sebelum sampai tujuan, Anda melewati jalan kecil naik turun dan berliku-liku yang dikelilingi semak-semak dan hutan kecil. Panorama yang manarik mata. Gemercik air sendiri sudah terdengar dari kejauhan. Itu suara air terjun yang bersumber dari pucuk sungai Seunong Bate Doeng.
 
Pantai Lhoknga dan Lampuuk terletak di pantai barat Aceh. Dari Banda Aceh kurang lebih 17 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari 20 menit. Pantai ini cukup indah dan dapat digunakan sebagai tempat berenang, berjemur di pasir putih, memancing, berlayar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya. Disore hari pantai ini terasa lebih indah, dimana kita dapat menyaksikan matahari terbenam (Sun-Set) yang penuh pesona yang memberikan suatu kenikmatan sendiri. Dikawasan Pantai Lampuuk, anda dapat bermain golf dengan latar belakang panorama laut di Padang Golf Seulawah. Lewat sedikit dari pantai Lhoknga, anda dapat menyaksikan panorama Taman Tepi Laut yang sangat indah.
Labels: Pariwisata Aceh |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 2:45 PM
 |
|
|
Sabang |
|
Sabang yang berstatus Kotamadya Dati II terletak di Pulau Weh, yang sering juga disebut dengan Pulau Sabang. Pelabuhan Sabang, merupakan pelabuhan alam yang indah. Di masa lalu , karena letaknya yang sangat strategis, menjadi tempat singgahan kapal-kapal besar dari dan ke Eropa.. Hingga saat inipun, pelabuhan Sabang terletak pada jalur pelayaran paling ramai. Namun sejak tahun 1985, Sabang tidak lagi menjadi pelabuhan bebas (free trade zone), maka pelabuhan ini menjadi sepi dan aktivitas perekonomian menurun drastis. Namun demikian, Kotamadya Sabang masih memiliki potensi keindahan alam yang sangat indah.Khusus untuk sektor Pariwisata, sebagai salah satu sektor yang paling diandalkan, telah dibangun jalan lingkar pulau yang mulus, sehingga memungkinkan wisatawan mengunjungi dan menikmati lokasi-lokasi wisata yang disajikan alam dengan segala keindahan dan keunikannya.Salah satu keindahan alam yang adalah Taman Laut Pulau Rubiah dan Pantai Iboh. Lokasi ini sehingga saat ini merupakan tujuan wisatawan mancanegara yang paling banyak dikunjungi . Tugu Km-0 Indonesia terletak di pulau ini, merupakan obyek wisata yang unik dan mengesankan. Labels: Pariwisata Aceh |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 2:30 PM
 |
|
|
Pariwisata Banda Aceh |
|
Mesjid Raya Baiturrahman

Mesjid Raya Baiturrahman Dipusat kota Banda Aceh berdiri dengan megahnya sebuah Mesjid yang agung yang bernama "Mesjid Raya Baiturrahman". Zaman dulu ditempat ini berdiri sebuah Mesjid Kerajaan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah Mesjid sebagai penggantinya. Mesjid ini berjubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959 - 1968) Mesjid ini merupakan salah satu Mesjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan Mesjid tersebut. Dipusat kota Banda Aceh berdiri dengan megahnya sebuah Mesjid yang agung yang bernama "Mesjid Raya Baiturrahman". Zaman dulu ditempat ini berdiri sebuah Mesjid Kerajaan Aceh. Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873 Mesjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah Mesjid sebagai penggantinya. Mesjid ini berjubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959 - 1968) Mesjid ini merupakan salah satu Mesjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan Mesjid tersebut. Pendopo Gubernur 

 Pendopo Gubernur
Pendopo Gubernur dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1880 diatas tanah bekas Istana Kerajaan Aceh dan diperuntukkan sebagai tempat tinggal Gubernur Belanda. Kini bangunan tersebut merupakan tempat kediaman resmi Gubernur Aceh. Museum Negeri Banda Aceh  Museum Negeri Banda Aceh Dikompleks ini sekaligus dijumpai makam sultan-sultan Aceh dimasa lalu. Makam para Sultan pada umumnya dinuat dari Batu Gunung dan dihiasi dengan Kaligraphi Arab yang indah mempesona, salah satunya adalah Makan Sultan Iskandar Muda. Kota Banda Aceh memiliki sebuah Museum Negeri yang terletak dalam sebuah Kompleks. Bangunan induk Museum berupa sebuah rumah tradisional Aceh, dibuat pada tahun 1914 untuk Gelanggang Pameran di Semarang, yang kemudian dibawa pulang ke Banda Aceh tahun 1915 oleh Gubernur Van Swart (Belanda) yang kemudian dijadikan Museum. Sekarang ini lingkungan Museum ini telah bertambah dengan bangunan baru yang mengambil motif-motif bangunan Aceh seperti halnya bangunan Balai Pertemuan yang berbentuk kerucut yang bentuknya diambil dari cara orang Aceh membungkus nasi dengan daun pisang yang dinamakan "Bukulah". Bukulah ini antara lain dihidangkan pada kenduri-kenduri tertentu seperti Kenduri Blang, Kenduri Maulid Nabi Besar Muhammad Saw dan lain sebagainya. Ruang pamer Museum yang baru, memiliki bangunan 3 lantai, dipenuhi oleh berbagai koleksi barang-barang purbakala yang ditata dengan baik. Salah satu koleksi Museum ini adalah Lonceng Besar yang diberi nama "Cakra Donya". Lonceng ini merupakan hadiah dari Kerajaan Cina tempo dulu yang dibawa oleh Laksamana Ceng Ho pada tahun 1414. Beranda depan Museum memiliki bentuk khas yang juga memperlihatkan ukiran-ukiran kayu dengan motif Aceh. Taman Sari  Taman Sari  Gunongan Kerajaan Aceh dahulu mempunyai taman yang indah tiada terperi yang dinamakan "Taman Sari". Raman ini berada disekitar Istana dan berada pada aliran sebuah sungai yang bernama "Krueng Daroy". Bangunan yang masih dapat dilihat antara lain adalah "Pinto-khop" yang merupakan pintu penghubung antara Istana dan taman. Disamping itu masih dijumpai sebuah bangunan yang merupakan gunung buatan yang disebut "Gunongan". Gunongan merupakan sebuah bangunan peninggalan Sultan Iskandar Muda (1608-1636) untuk permaisurinya Putri Phang. Menurut sejarah, Putri Phang selalu merasa rindu akan kampung halamannya, Pahang - Malaysia. Sultan kemudian mengetahui bahwa kegusaran permaisurinya itu karena di Pahang Istananya dikelilingi oleh perbukitan dimana permaisuri dapat bermain, namun disini tidak. Lalu Sultan membangun sebuah gunung buatan yaitu Gunongan dimana permaisuri dapat memanjatinya. Begitu bangunan ini siap, permaisuri menjadi berbahagia dan lebih banyak menghabiskan waktunya disini terutama pada saat matahari akan tenggelam. KHERKOFF (Monumen Perang Peucut)   Kherkoff and Monumen Perang Peucut Sebagaimana diketahui bahwa Kerajaan Aceh dan rakyatnya sangat gigih melawan Belanda yang memerangi Aceh. Rakyat Aceh mempertahankan Negerinya dengan harta dan nyawa. Perlawanan yang cukup lama mengakibatkan banyak korban dikedua belah pihak. Bukti sejarah ini dapat ditemukan dipekuburan Belanda (Kerkhoff) ini. Disini dikuburkan kurang lebih 2000 orang serdadu Belanda yang kuburannya masih dirawat dengan baik. Sebaliknya tidak terhitung banyaknya rakyat Aceh yang meninggal dalam mempertahankan setiap jengkal tanah airnya yang tidak diketahui dimana kuburnya.
MONUMEN R.I. 001  Monumen RI 001
Setelah Indonesia merdeka (1945) Belanda masih ingin menjajah Negeri ini. Dalam perjuangan phisik melawan penjajahan Belanda tersebut, pada tahun 1948 Indonesia membutuhkan sebuah pesawat terbang untuk menembus blokade musuh, karena banyak wilayah telah dikuasai Belanda. Untuk memperoleh sebuah pesawat terbang untuk kepentingan negara waktu itu dirasa sangat sulit, karena sedang berjuang dan keadaan keuangan negara belum memungkinkan. Presiden pertama Republik Indonesia "Soekarno" menghimbau agar rakyat Aceh menyumbangkan dana untuk membeli pesawat terbang yang diperlukan. Dalamwaktu singkat dana yang diperlukan dapat terkumpul dan berhasil dibeli sebuah pesawat Douglas DC. 3. Disamping menembus blokade musuh pesawat ini juga digunakan untuk pengangkutan senjata dari luar negeri untuk mengusir penjajah. Pesawat ini kemudian merupakan cikal bakal Perusahaan Garuda Indonesia Airways yang kini merupakan perusahaan penerbangan terbesar sekaligus "pembawa bendera Indonesia". Untuk mengenang jasa, masyarakat Aceh yang patriotik ini, pemerintah membangun sebuah Monumen yang terletak di Jantung Kota Banda Aceh Makam Teuku Syiah Kuala Makam Teuku Syiah Kuala didekat muara Krueng Aceh tidak berapa jauh dari pusat kota Banda Aceh. Teuku Syiah Kuala adalah gelar dari Syeh Abdurrauf Bin Ali Al Jawi Al Fansyuri Al Singkili, seorang ulama Islam yang telah mengabdikan dirinya kepada Ilmu Pengetahuan dan pembinaan masyarakat. Ia seorang Ulama Besar yang diberi kewenangan mengatur Negara dalam keagamaan, sehingga timbul suatu ungkapan yang cukup terkenal "Adat Bak Po Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala" yang bermaksud adat dipegang oleh raja, sedangkan segala hukum yang berkaitan dengan keagamaan harus mengikuti fatwa yang diberikan oleh Syiah Kuala. Untuk mengenang Beliau, maka universitas negeri di Banda Aceh diberi nama Universitas Syiah Kuala. UNIVERSITAS SYIAH KUALA Universitas Syiah Kuala diambil dari nama ulama besar Syiah Kuala, didirikan pada tahun 1959. Universitas Syiah Kuala adalah sebuah Universitas Negeri yang terletak disebuah kompleks yang luas dan diberi nama "Darussalam". Kini Universitas in cukup banyak memiliki mahasiswa baik yang berasal dari Aceh maupun dari luar Aceh. Universitas ini lengkap memiliki beberapa Fakultas antara lain Ekonomi, Hukum, Pertanian, Teknik, Keguruan & Ilmu Pendidikan, Kedokteran, Kedokteran Hewan dan Ilmu Peternakan dan lain sebagainya. Bahkan sekarang telah didirikan pendidikan S-2 Pasca Sarjana yaitu Magister Management (MM), MSi, dan lain-lain. Disamping itu, di Kompleks ini juga berdiri sebuah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jami'ah Arraniry. Pantai Lhoknga dan Lampuuk 
Pantai Lam Puuk 
Taman Tepi Laut
Pantai Lhoknga dan Lampuuk terletak di pantai barat Aceh. Dari Banda Aceh kurang lebih 17 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari 20 menit. Pantai ini cukup indah dan dapat digunakan sebagai tempat berenang, berjemur di pasir putih, memancing, berlayar, menyelam dan kegiatan rekreasi lainnya. Disore hari pantai ini terasa lebih indah, dimana kita dapat menyaksikan matahari terbenam (Sun-Set) yang penuh pesona yang memberikan suatu kenikmatan sendiri. Dikawasan Pantai Lampuuk, anda dapat bermain golf dengan latar belakang panorama laut di Padang Golf Seulawah. Lewat sedikit dari pantai Lhoknga, anda dapat menyaksikan panorama Taman Tepi Laut yang sangat indah. Krueng Raya 
Krueng Raya
Krueng Raya, 35 Km dari Banda Aceh merupakansebuah tempat pelabuhan yang bernama "Pelabuhan Malahayati", yang dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Banda Aceh. Sepanjang jalan ditemukan beberapa tempat yang menarik, antara lain : Pantai Ujong Batee Pantai Ujong Batee terletak sekitar 17 km arah timur Banda Aceh. Sangat cocok sebagai tempat rekreasi sambil berenang, memancing, surfing, dsb. Pantainya yang ditumbuhi pohon cemara yang lebat merupakan pelindung para pengunjung bila hari panas sehingga cukup nyaman untuk bersantai. Dekat pantai ini terdapat sebuah restauran yang menyajikan makanan khas Aceh yang terkenal yaitu Kepiting Besar, Udang Windu, Tiram, Telur Penyu, dan berbagai hasil laut dan pertanian lainnya. Benteng Indra Patra Terletak dekat pantai Ujong Batee, menurut riwayat dibangun pada masa pra Islam di Aceh yaitu dimasa kerajaan Lamuri. Dibuat dari beton kapur, cukup kuat untuk mempertahankan diri dari serangan Portugis dimasa lalu. Lamreh Lewat sedikit dari Pelabuhan Malahayati, terletak diatas bukit yang dulunya sangat tandus. Kini telah ditanami pepohonan. Dari atas bukit Lamreh ini kita dapat melihat panorama laut yang indah. Benteng Iskandar Muda Terletak di dekat pasar Krueng Raya Makam Laksamana Malahayati Menurut sejarah, Laksamana Malahayati adalah seorang wanita yang memimpin Angkatan Laut Kerajaan Aceh. Pada masa hayatnya ia pernah memangku jabatan Penguasa Pelabuhan dan memegang jabatan penting lainnya dalam Kerajaan Aceh. Ii Su-uem Di daerah Krueng Raya juga dijumpai sumber air panas alam yang konon baik sekali digunakan untuk mandi dan dapat pula menyembuhkan beberapa jenis penyakit dan membuat badan sehat
Perpustakaan Tanoh Abee
Terletak di daerah Seulimum, 42 Km sebelah timur kota Banda Aceh didapat sebuah perpustakaan yang bernama "Perpustakaan Tanoh Abee". Untuk mencapai tempat ini dari Banda Aceh dapat ditempuh selama 45 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Perpustakaan ini memuat banyak sekali literatur lama mengenai Agama Islam yang tak ternilai harganya. Museum - Museum Cut Nyak Dhien Rumah pejuang besar wanita yang cukup terkenal melawan Belanda "Cut Nyak Dhien" dengan suaminya Teuku Umar dulu telah dibakar oleh Belanda. Kini rumah tersebut telah dibangun replikanya. Rumah tersebut dijadikan semacam Museum yang sekaligus dipamerkan koleksi peninggalan lam serta peninggalan Cut Nyak Dhien.
- Museum Ali Hasyimi
Merupakan kebanggaan lain kota Banda Aceh. Bapak Ali Hasyimi yang mantan Gubernur Aceh dan seniman memiliki koleksi pribadi yang berharga dan menarik. Kini koleksi beliau dijadikan pajangan yang menarik dimuseum beliau sendiri. Benda-benda tersebut antara lain kitab-kitab karya para ulama besar Aceh tempo dulu, kemik kuno, senjata khas Aceh, cendera mata dari berbagai pelosok dunia, dll. GEDUNG JOEANG (JUANG) Gedung yang terletak bersebelahan dengan Museum Aceh dan pendodo Gubernur seakan terlupakan oleh para generasi muda Aceh saat ini. Padahal di gedung tua inilah tempat dimana pertama kalinya dikibarkannya sang Saka Merah Putih di Bumi Serambi Mekkah ini.
Labels: Pariwisata Aceh |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 2:07 PM
 |
|
|
|
About Me |

Name: Rahmat Rejoni, S.T., M. Si
Home: Bogor, Kota Bogor, Indonesia
About Me: simply, fun
See my complete profile
|
Previous Post |
|
Archives |
|
Links |
|
Other things |
|
Other things |
|
Other things |
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem,
consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
Powered by |


Subscribe in a reader


|
|