|
| Aceh Tenggara |
| Monday, September 10, 2007 |
| Kabupaten ini berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut, yakni bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Taman Nasional Gunung Lauser yang merupakan daerah cagar alam nasional terbesar terdapat di kabupaten ini. Pada dasarnya wilayah Kabupaten Aceh Tenggara kaya akan potensi wisata alam, salah satu diantaranya adalah Sungai Alas yang sudah dikenal luas sebagai tempat olah raga Arung Sungai yang sangat menantang. Secara umum ditinjau dari potensi pengembangan ekonomi, wilayah ini termasuk Zona Pertanian. Potensi ekonomi daerah berhawa sejuk ini adalah kopi dan hasil hutan. Dalam bidang Pertambangan, Aceh Tenggara memiliki deposit bahan galian golongan-C yang sangat beragam dan potensial dalam jumlah cadangannya.
Wisata:
Rumah Adat Suku Alas Lokasi: 121 km dari Kabupaten Aceh Tenggara Balai Adat Sepakat Segenap Lokasi: 1 km dari Kabupaten Aceh Tenggara Museum Sepakat Segenap Lokasi: Kutacane Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 4:08 PM
 |
|
|
|
| Aceh Tengah |
|
Kabupaten Aceh Tengah dengan ibu kota Takengon, berlokasi di daerah pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut dengan pemandangan alamnya yang indah. Danau Laut Tawar, sebuah danau yang terbesar di Aceh bukan saja memberikan tambahan keindahan alam di wilayah ini tetapi memberikan tambahan potensi lain diantaranya potensi ikan air tawar.Di sektor Perkebunan, KOPI adalah komoditi kebanggaan Aceh Tengah. Terkenal dengan nama Kopi Gayo, jenis kopi Arabica yang tumbuh subur dikawasan dataran tinggi Gayo dengan ketinggian antara 1.200 - 1.600 m di atas permukaan laut.Hortikultura mencatat prestasi peningkatan yang menggembirakan adalah Jeruk Keprok, Durian
Wisata:
Danau Laut Tawar 
Lokasi: Kabupaten Aceh Tengah Pacuan Kuda (Lokasi: 0,5 km dari Kabupaten Aceh Tengah)  ACEH Tengah dikenal sebagai penghasil kuda gayo. Kuda tersebut bukan untuk menarik pedati atau tunggangan wisata, melainkah untuk membajak sawah. Selain untuk membajak, kuda yang terbaik biasanya dipakai untuk pacuan. Masyarakat Dataran Tinggi Gayo memang "gila" pacuan kuda. Namun, jangan bayangkan pacuan kuda di Takengon, ibu kota Aceh Tengah, sama seperti pacuan kuda umumnya. Pacuan kuda di Takengon lebih menyerupai pacuan kuda ala koboi yang biasa terlihat dalam film-film laga. Sama-sama liar, keahlian joki didapat alami, dan tanpa aturan detail. Hanya saja, jika para koboi masih memakai pelana dan beseragam keren, joki pacuan kuda di Takengon lebih berani lagi. Para joki di Takengon bertanding tanpa pelana, cukup memakai kaus dan celana pendek kumal yang biasa dipakai sehari-hari, serta tanpa pelindung tubuh lainnya. Betul-betul alami. Para joki biasanya anak-anak seusia sekolah dasar. Mereka biasanya bertanding tanpa "kontrak" dengan pemilik kuda. Bahkan, dalam banyak kasus para joki hanya dicomot mendadak saat akan bertanding. Memang ada juga sejumlah joki yang berlatih sebulan sebelum bertanding, namun jumlahnya sangat terbatas. Jangan tanyakan berapa bayaran joki yang diperoleh dari pemilik kuda ketika bertanding. "Ya seikhlasnya saja, kalau mau ngasih boleh, kalau tidak juga tidak apa-apa," kata Zuhrupan Daman, pemilik kuda pacuan sekaligus Wakil Ketua Ikatan Penggemar Pencinta Kuda Pacu (IKPPKP) Aceh Tengah. Selain tradisional dan masih alami, pacuan kuda ini unik, karena kolosal lebih dari 300 kuda dengan waktu penyelenggaraan satu pekan. Hanya kuda terbaik yang berhak memasuki babak final. Selain kolosal, pacuan kuda gayo-kabarnya-juga penuh mistik. "Mereka yang mempunyai kuda pacu ada-ada saja caranya untuk memenangi pertandingan, ada yang memandikan kudanya malam hari di sungai, ada yang menyembelih ayam di tengah lapangan, pokoknya unik-unik pacuan kuda di sini," kata Daman. Kini hobi pacuan kuda telah difasilitasi Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dengan membuatkan lapangan pacuan kuda Blang Bebangka Pegasing.(kompas) Alas River -The Alas River, 165 km southeast from Takengon, cuts through the Gunung Leuser National Park. This area is especially popular among the young and adventurous. The sharp bends and many rapids are challenging to white-water rafters. 
| | The Governor's Residence -Built by the Dutch in 1880 on the spot where the palace of the sultan once stood. This building is known as one of the historical sites with a unique architecture and completed with traditional house equipments. | | Lake Laut Tawar -Located near Takengon, in the highlands of Cental Aceh, is very scenic. It has soaring cliffs around the shore which are ideal for rock climbing. The lake is also stocked with trout. There are warm water pools at Simpang Balik. Many caves dot the lake's surroundings, Loyang Koro and Loyang Pukes caves by the side of Lake Laut Tawar are interesting to explore. Motorboats can be hired for fishing and sightseeing. | | Syiah Kuala Grave -Syiah Kuala grave is another pride of Banda Aceh, which is located about 3 km to the east. Syiah Kuala was one of Aceh's great Moslem Ulama of the past. He had spent more than 15 years in Mecca for religious learning before he dedicated most of his life to science and society. He had written many books on Islam, social studies, and science. He also had a lot of student coming from Malaysia, West Sumatra and Java. (mostly destroyed because of Tsunami) Ulee Lheue Ulee lheue is an old port where one can see many typical villages are surrounding area. There is also beach, which is visited regularly by local people early in the morning every Sunday morning. The beach is also popular for fishing on holiday. (mostly destroyed by Dec '04 Tsunami and over 85% of its population killed) |
Taman Buru Lokasi: 50 km dari Kabupaten Aceh Tengah Loyang Karo Lokasi: 19 km dari Kabupaten Aceh Tengah Makam Datu Beru Lokasi: 25 km dari Kabupaten Aceh Tengah Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 4:00 PM
 |
|
|
|
| Aceh Selatan |
|
| Kabupaten Aceh Selatan secara ekonomi terletak pada jalur yang stategis, yakni sebagai gerbang wilayah barat - selatan yang menghubungkan Medan sebagai pusat pengembangan nasional wilayah Sumatera Utara dengan kota Banda Aceh Ibukota Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Hal ini dikarenakan hubungan kedua wilayah tersebut sudah dapat ditempuh melalui jalan aspal hotmik yang mulus. Tapaktuan adalah Ibukota Kabupaten Aceh Selatan, juga terkenal dengan sebutan "Kota Naga", merupakan kota pantai dengan pelabuhan samudera-nya yang ramai. Wisata: Air Terjun Tujuh Tingkat Lokasi: 4 km dari Kabupaten Aceh Selatan Ulee Dep Lokasi: 80 km dari Kabupaten Aceh Selatan Kuta Batee Lokasi: 75 km dari Kabupaten Aceh Selatan Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 3:54 PM
 |
|
|
|
| Aceh Utara |
|
Kabupaten Aceh Utara tergolong sebagai kawasan industri terbesar di Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan juga tergolong industri terbesar diluar pulau Jawa. Khususnya dengan dibuka industri pengolahan gas alam cair PT. Arun LNG di Lhokseumawe pada tahun 1974. Di daerah wilayah ini juga terdapat pabrik-pabrik besar lainnya : Pabrik Kertas Kraft Aceh, pabrik Pupuk AAF (Aceh Asean Fertilizer) dan pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM). Dalam sektor pertanian, daerah ini mempunyai unggulan reputasi sendiri sebagai penghasil beras yang sangat penting. maka secara keseluruhan Kabupaten Aceh Utara merupakan daerah Tingkat II yang paling potensial di Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan pendapatan perkapita diatas paras Rp. 1,4 juta tanpa migas atau Rp. 6 juta dengan migas. Dibidang agama penduduk Aceh Utara adalah penduduk yangberagama Islam yang taat beragama dalam tahun 1994 tercatat 782 orang yang berangkat naik haji. Wisata :
Pantai Ujong Blang Lokasi: 3 km dari Kabupaten Aceh Utara Pantaiku oh pantaiku......sekarang tinggal kenangan, setelah terkena tsunami dan abrasi pantai

Peninggalan Kerajaan Samudera Pase
Lokasi: 18 km dari Kabupaten Aceh Utara Makam Nahrisyah Lokasi: 18 km dari Kabupaten Aceh Utara Rumah Adat Cut Meutia Lokasi: 30 km dari Kabupaten Aceh Utara Museum Malikussaleh Lokasi: Lhok Seumawe
Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 2:07 PM
 |
|
|
|
| Atjeh Jadoel |
| Friday, August 31, 2007 |
 de Javasche Bank te Koetaradja, verlicht ter gelegenheid van het huwelijk van prinses Juliana en prins Bernhard 1937
(Sepertinya ini salah satu BANK di koetaradja - Banda Aceh 1937, bangunan - bangunan kantor kolonial di daeah sumatera rata - rata mempunyai bentuk yang serupa)
 Huis Hospitaalweg D 18, Koetaradja 1930
(Nah kalo ini adalah salah satu Rumah sakit di Koetaradja - Banda Aceh taon 1930, Menggunakan bentuk simetris )
 Bedehuis te Koetaradja, waarin zich het graf van Aboebakr bin Hoesein Bilfakih (ook Teungkoe Andjong genaamd) bevindt 1881
( kira-kira artinya apa ya...? apakah ini rumahnya Aboebakar bib Hoesein Bilfakih......Tapi lihat saja bentuk atapnya, lebih seperti pagoda. Pengaruh hindu masih terlihat jelas di bangunan ini)
Atjeh Museum op de Esplanade te Koetaradja, Sumatra 1930
(Museum Aceh di Koetaradja - Banda aceh 1930, menerapkan rumah panggung sebagai rumah adat aceh. dengan sebuah atap tambahan diatas, diambil dari bentuk mesjid dahulu)

Gebouw van de Javasche Bank te Koetaradja, verlicht ter gelegenheid van het huwelijk van prinses Juliana en prins Bernhard 1880
(Nah loh, ini sebuah BANK....? kok bentuknya seperti mesjid...)
 De Atjeh Drukkerij te Koetaradja, verlicht ter gelegenheid van het huwelijk van prinses Juliana en prins Bernhard 1937
( Artinya apa ya....tapi bangunan ini seperti sebuah gerbang )
atjehnativehouses1890( Nah ini adalah contoh rumah di Aceh taon 1890, menggunakan atap dari sirap, atau daun kelapa, sampai sekarang masih ada rumah2 yang menggunakan atap dari dau kelapa. Bentuk atap meruncing, untuk mencegah air hujan masuk ke dalam rumah. Bentuk bangunan panggung)  Atjehs huis in kampong Meurasa in de buurt van Koetaradja 1892( Sebuah rumah di perkampungan Koetaradja - Banda Aceh, bentuk rumah yang banyak digunakan oleh rakyat Aceh ) Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 10:25 AM
 |
|
|
|
| Bangunan Tanpa Memakai Paku (Busyet.....) |
| Tuesday, August 28, 2007 |
Museum Negeri Aceh
18-01-2007 Museum Negeri Aceh yang terletak di Jl Sultan Alaidin Mahmud Syah, merupakan obyek wisata yang perlu dikunjungi untuk mengetahui kebudayaan Aceh pada masa lalu. Di museum ini terdapat barang-barang kuno seperti keramik, persenjataan serta benda-benda budaya lainnya seperti pakaian adat, perhiasan, kaligrafi, alat-alat rumah tangga dan lain-lain. Koleksi museum yang paling menarik adalah sebuah lonceng besar yang diberi nama “Lonceng Cakra Donya” yang merupakan hadiah dari Maharaja Cina untuk Sultan Aceh yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Di komplek museum ini terdapat sebuah rumoh Aceh yang dibangun oleh Gubernur Belanda Van Swart pada tahun 1941.
Rumah yang dibangun tanpa menggunakan sebuah paku pun ini berfungsi sebagai museum yang berisi barang-barang kuno. Sebelumnya, rumoh Aceh ini pernah dibawa ke Semarang untuk pameran pada tanggal 13 Agustus sampai dengan 15 Agustus 1915. Di dalam komplek museum ini juga terdapat bangunan yang digunakan untuk pameran barang seni atau budaya khususnya mengenai Aceh. Di sebelah barat gedung museum atau di sebelah utara rumah adat Aceh terdapat komplek makam dari para sultan Aceh dan keturunannya.Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 2:00 PM
 |
|
|
|
| History of Aceh |
|

In 1292, Marco Polo, on his voyage from China to Persia visited Sumatra and reported that on the northern part of Sumatra there were as many as six trading ports including Ferlec, Samudera and Lambri. Islam is reported to have reached Aceh between the seventh and eighth centuries AD and the first Islamic kingdom, Perlak was established in 804 AD. Then followed Samudera Pasai in 1042, Tamiah in 1184, Aceh in 1205 and Darussalam in 1511. In this year the Portuguese captured Malacca and many Asian and Arabic traders sought to avoid the Malacca Strait and called instead on Aceh's port, bringing wealth and prosperity. Aceh's dominance in trade and politics in northern parts of Sumatra began, reaching a climax between 1610 and 1640. With the death of Sultan Iskandar Thani in 1641, Aceh's decline began. The British and Dutch both started to vie for influence. In 1824 the London Treaty was signed, giving the Dutch control over all British possessions in Sumatra in return for a Dutch surrender of their establishments in India and an abrogation of all claims on Singapore. Summary of Aceh important dates in its history (1520- early 1600) Rise of Aceh clearly demonstrates impact of Islam and trade in contestation with Europeans. Portuguese efforts to intervene in Pasai and Pidie, and takeover of Melaka across the straits, drove elements interested in Islam, commerce, or local patriotism to unite in support of Aceh's Sultan Ali Mughayat Syah.
1520s
 Sultan worked to unite the north Sumatran coast into a new and explicitly anti-Portuguese kingdom; ideological identity and authority of Aceh competed directly with Portuguese Melaka as center of Islamic spice route. (Similarly, Banten in western Java emerged as an Islamic kingdom in competition with the Hindu port of Sunda Kelapa, ruled by a Portuguese ally.)
1534–38
Ottoman expansion (first to Egypt, Syria, and the Hejaz in 1516–17, then to Iraq in 1534–35) provided new military defense of Muslim spice-trading route in the Indian Ocean. First Ottoman fleet to combat the Portuguese in the Indian Ocean was launched by the governor of Egypt in 1537–38; this failed.
1560s
Establishment of direct commercial and diplomatic relations between Ottomans and Aceh; this led to concept of pan-Islamic counter-crusade against the Portuguese in Southeast Asia (e.g., 1566 petition for assistance, sent from sultan of Aceh to Ottoman sultan).
1560–1580s
High point for Islamic military success in Southeast Asia.
Early 1600s
Evidence that Shari'a courts in use in Aceh, to apply Islamic law in enforcing precepts relating to prayer, fasting, and religious orthodoxy and to deal with civil matters of debt, marriage, divorce, and inheritance as well as criminal matters of theft, drunkenness, and so on. Introduction of the kadi (law officer, an important figure in urban governance) dates from the 1580s. A number of Islamic leaders, from various parts of the archipelago, centered in Aceh during the 17th century, writing voluminously on religious topics both in Arabic and Malay. The last great mystic was ‘Abd al-Ra'uf of Singkel, born around 1615. After studying in the Middle East, he returned to Aceh, served the sultan as secretary, and wrote widely on law and religion. His fame as a religious reformer spread widely, before and after his death sometime following 1693. (See The Malayan Archipelago, 1798–1908)
Summary of Aceh important dates in its history (1816-1942) Also referred to as Atjeh, Achin. An Islamic sultanate located on the northern tip of the island of Sumatra, at times controlling land on both sides of the Malacca Straits. Its strategic location gave it political importance In 1816/1824 the Dutch and British agreed on delimitation of their mutual spheres of influence in the Malay Archipelago; Aceh was allocated to neither of them. In the Sumatra Treatise of 1871, Britain conceded Aceh to the Netherlands, in return for Dutch concessions regarding Sarawak/North Borneo and on the Gold Coast. 1831 - U.S. ships, the Potomac Fleet, under the order of US President Andrew Jackson and without the approval of the US Congress, shell coastal villages in Aceh in an action against "piracy" (Acehnese pepper trade dispute with businesses tied to Governor of Massachussetts). In 1832 (Quallah Battoo) and in 1838/1839 US troops landed in Aceh (Quallah Battoo, Muckie) to protect US interests. Quallah Battoo (Kuala Bate) is located between the town of Meulaboh and Tapak Tuan, near the area where the US Marines landed to help Aceh Tsunami's victims.
1852 - Aceh sends an emissary to Napoleon III of France.
1854 - Aceh establishes authority over Langkat, Deli and Serdang on east coast of Sumatra ("pepper ports").
1858 - Dutch take Siak in north Sumatra by treaty, and move troops in to prevent British adventurers from gaining a foothold there. The boundary of Siak is defined to include Langkat and Deli, infringing on Acehnese territory.
1869 - Aceh appeals to the Ottoman Empire for protection. In 1869, the Suez Canal opened, which greatly reduced the travel time and effort between Europe and Asia by sea, and gave places such as Aceh much more strategic importance.
1870 - Sultan Mahmud Syah rules Aceh until 1874.
1871 - November Treaty of Sumatra between British and Dutch: Dutch give Gold Coast to British; Dutch may send contract labor from India to Dutch Guinea; Dutch get free hand in Sumatra, British and Dutch both have trade rights in Aceh. Effect of this treaty: there is no more foreign objection to the Dutch taking Aceh.
1873 - January 25 Emissary from Aceh holds talks with the American consul in Singapore, but help was rejected by Washington. The Dutch respond with war. March 26 Dutch bombard Banda Aceh. April 8 Dutch land troops at Banda Aceh. April 25 Acehnese force the Dutch to withdraw. The Sultan of Aceh sensed the imminent danger and sent a delegation to Singapore, where they contected the consuls of Italy and the US (for a possible protectorate, 1873). The Dutch regarded this as the "Treason of Singapore" and declared war. The first Dutch attempt to conquer Aceh failed in 1873
1874 - Holland attack Sultanate of Aceh and the Kraton (capital, called Koetaradja by the Dutch) was occupied and the Sultanate formally annexed. The Dutch controlled only the area around Koetaradja; most of the territory remained unoccupied, and the Acehnese continued to resist. January 24 Acehnese abandon Banda Aceh and retreat to the hills. Dutch announce that Sultanate of Aceh is ended. Sultan Mahmud Syah of Aceh dies in the jungle; Sultan Ibrahim Mansur Syah heads sultanate in hills until 1907. Teuku Umar of the Acehnese nobility leads the Acehnese forces. The Dutch strategy of occupying the political center had failed; the resistance continued (2nd Acehnese War 1874-1880, 3rd Acehnese War 1884-1886, 4th Acehnese War since 1888). In 1882, the population of Aceh was calculated as 479,419 (Meyers). Advised by scholar Snouck Hugronje, the Dutch army, under Lt. VAN HEUTSZ, adopted a new strategy of brutal repression. In 1903 the Acehnese Sultan POLIM surrendered; only in 1908 were the Dutch able to establish control over the area; guerilla resistance continued. The wars leading to the conquest and pacification of Aceh (1873-1908) have cost an estimated 10,000 Dutch and 100,000 Acehnese fatalities. 1878 - Expedition under Gen. Van der Heijden burns 500 villages in Aceh to the ground. Teungku Cik di Tiro, an Islamic ulama, starts leading the resistance in Aceh.
1884 - Guerilla war heats up in Aceh. Dutch build "Geconcentreerde Linie" in Aceh: a series of 16 forts designed to contain guerillas. Many of the common soldiers Dutch-led troops in the Netherlands Indies forces were not Dutch, but were recruited from Java, Sulawesi, and other parts of Indonesia.
1896 - Dutch go on attack against guerillas in Aceh with special forces (Korps Marechaussee).
1898 - Van Heutsz becomes Dutch Governor of Aceh. His advisor Snouck Hurgronje introduces "Korte Verklaring", a short treaty recognizing Dutch rule, to replace older complicated agreements with local rulers; Dutch pursue alliance with uleebalangs against Islamic leaders. June Van Heutsz sends a successful Dutch expedition against Pidie, Aceh. 1899 - Teuku Umar is killed during a Dutch ambush.
1903 - Sultan of Aceh, Tuanku Daud Syah, surrenders to the Dutch, but keeps secret contact with guerillas
1904 - Van Heutsz, recently military Governor of Aceh, becomes Governor-General (until 1909). An expedition under Capt. Van Daalen to the uplands of Aceh kills over 3000 villagers, including over 1000 women and children.
1905 - Acehnese resistance contacts Japanese consul in Singapore for help.
1907 - Aceh guerillas attack Dutch in Banda Aceh
1910 - Islamic resistance in Aceh is decimated. Uleebalangs, or traditional aristocracy of Aceh take charge. The Uleebalangs would develop a reputation for collaborating with the Dutch; after World War II, many Uleebalangs were massacred.
1942 - Aceh resistance overthrew Dutch rules in Aceh and began helping Indonesian Independence movement and resistance in Java island. ....... Dec 26, 2005 - 9.0 Earthquake and Tsunami destroyed Banda Aceh, Meulaboh and all coastal towns in Aceh, killing over 170,000 people and displaced over 550,000 people. www.aceh.net/mosques.htmlLabels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 1:47 PM
 |
|
|
|
| Mesjid Aceh |
|
Aceh Mosques and its origin The Masjid Baiturrahman design is of Moghul-Indian, not traditional Acehnese ( a visit to the older Indrapuri mosque will show clearly). Prior to that, the local style was based more on traditional Chinese architecture. Masjid Baiturrahman represents one of the first examples of a domed mosque in Southeast Asia. Perhaps more importantly, the mosque is an architectural embodiment of the political role Islam has played in Indonesia. Built by the Dutch in 1879 and completed in 1881, it was intended to appease the Acehnese during the bloody Dutch led Aceh War. Furthermore, additions made to the mosque in 1957 were meant to symbolically link the largely separatist region of Aceh to the Republic of Indonesia.
Masjid Baiturrahman replaced a mosque built six years prior in 1872 by Sultan Nur al-Alam. This original mosque, named Mesjid Raya or Grand Mosque, was said to replicate a 1614 mosque built by Sultan Iskandar Muda with its layers of wide hipped meru roofs. When the kingdom of Aceh resisted Dutch mercantile treaties in 1873, the Dutch invaded Banda Aceh, starting the 30 years Aceh War, and destroying the newly constructed Mesjid Raya. In an effort to persuade the Acehnese to end their resistance, the Dutch rebuilt this central mosque from 1879 to 1881.
The architect de Bruchi modeled the new mosque on a Moghul plan quite unlike any before seen in Southeast Asia. Whereas the pre-extant mosque was laid out on a square plan with a four-tierd meru roof, this new Dutch creation copied many structural, formal and stylistic elements of Mughal mosques. The timber-framed dome, heretofore foreign to Acehnese architecture, was clad in black ironwood shingles, which contrasted with the whitewashed walls of the mosque while its thick timber towers rose above the town profile. These Mughal elements were further embellished with Moorish touches, such as the tear shaped arches with parabolic intrados and the arabesque plaster moldings.
During the twentieth century elements have been added to the mosque in stages. In 1936 two side domes were added. In 1957 a fourth and fifth dome were added at the rear, completing a symbolism of the five pillars of the Indonesian Pancasila. Also in 1957 two minarets were added and the mosque was renamed Masjid Baiturrahman. During the late 1980s, the mosque was refurbished and the grounds landscaped. Upon its construction, the mosque was received with hesitancy. For many years after the Dutch presented the mosque to Banda Aceh, religious leaders considered it inappropriate for worship and banned the public from using it for prayer. However, today Mesjid Baiturrahman has grown to demarcate the significant religious position of Banda Aceh as Indonesia's "eastern gateway to Mecca" or Serambi Mekah (Mecca's veranda), as well as represent an independent link between the Acehnese umma and the international Muslim community.Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 1:35 PM
 |
|
|
|
| Kokohnya Aceh di Tiang Masjid |
|

Saat gelombang datang, instink Achyar langsung mendorongnya untuk mendekati masjid. ''Saya memanjat menara masjid sampai air surut. Banyak teman saya dan warga keturunan Cina, meninggal karena mereka naik ke lantai dua di tokonya, kemudian terjebak di situ,'' tutur warga Banda Aceh itu.Tiga orang Marinir juga berlindung di masjid. ''De, aku selamat. Aku ada di atas menara mesjid. Bareng dua Marinir dan delapan ibu-ibu. Airnya banyak sekali, nggak tahu datang dari mana. Masih shock kalo denger suara keras,'' ungkap sang Marinir lewat SMS yang dikirimkan kepada adiknya di Bandung. Ketika tsunami menerjang Aceh, banyak bangunan luluh lantak. Puing-puing rumah saling bertumpuk. Tapi, tidak untuk masjid. Keajaiban menyertai keberadaan masjid-masjid di Aceh. Saat daerah di sekitarnya hancur lebur, masjid-masjid itu tetap berdiri kokoh. Gambar di televisi juga foto-foto udara merekamnya dengan sangat jelas. Saat tsunami menerjang, kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, ikut tergenang. Bangunan-bangunan di sekitar masjid seperti Pasar Aceh, juga jajaran pertokoan, luluh lantak. Namun, masjid tersebut tetap berdiri kokoh. Gambar televisi menunjukkan, banyak orang yang berlindung di masjid saat gelombang air datang. Bahkan, saat melintas halaman masjid, air terlihat tenang. Hasyim, juru kamera amatir yang berhasil mengabadikan momen saat gelombang tsunami melewati Masjid Baiturrahman termasuk orang yang berlindung di masjid tersebut. Meski gelombang terus menerjang, dia tetap tenang mengambil gambar. ''Saya ingat pada Allah SWT dan keluarga saya. Saya serahkan seluruh diri saya pada Allah. Jika saya mati di sini, saya mati di rumah Allah dan saya tidak takut sama sekali,'' tuturnya. Masjid yang didirikan Sultan Alaudin Mahmudsyah I (1234-1267 M) itu kemudian malah menjadi tempat pengungsian dan persemayaman jenazah-jenazah korban yang meninggal. Warga Banda Aceh juga banyak berdatangan ke masjid tersebut untuk mencari kerabatnya yang hilang. Riwayat sejarah masjid ini sudah sangat panjang. Pada 1873, akibat serangan tentara Belanda, masjid ini sempat terbakar. Rakyat Aceh kala itu pun sangat marah. Namun, peristiwa tersebut tidak lantas membuat riwayat Masjid Baiturrahman berakhir. Enam tahun kemudian, yakni pada 1879 masjid itu sudah dibangun kembali. Qadhi Malikul Adil menjadi tokoh Aceh yang meletakkan batu pertama pada pembangunan tersebut. Pada perkembangannya, masjid itu menjadi simbol perjuangan dan kekuatan rakyat Aceh. Simbol itu seperti diteguhkan lagi saat gempa tsunami menerjang. Padahal, seorang ahli geologi pernah mengungkapkan, kalau gempa kekuatannya sampai 9 skala richter, maka semuanya akan rata dengan tanah. Tapi, Sang Pencipta berkehendak lain. Masjid Baiturrahman hanya mengalami kerusakan kecil meski diguncang gempa 9 skala richter, dan tsunami yang sangat dahsyat. ''Banyak diomongkan orang Aceh bahwa masjid adalah rumah Allah SWT dan tidak ada sesuatu pun yang bisa menghancurkannya kecuali Allah SWT sendiri,'' kata Ismail Ishak (42) warga Banda Aceh. Musibah tersebut telah membuat Ismail kehilangan tujuh kerabatnya. Cerita soal kekokohan masjid juga terlihat di Desa Baet, pinggiran Banda Aceh. Di situ terdapat masjid kampung yang tetap berdiri saat rumah penduduk dan bangunan lain di kampung itu rata dengan tanah. ''Tangan Allah SWT telah menjaga masjid agar tidak hancur,'' ujar Mukhlis Khaeran, warga Desa Baet. Rumah dia sendiri habis diterjang gelombang tsunami. ''Allah telah menjatuhkan hukuman karena kita tamak dan arogan. Tapi, Dia akan tetap melindungi rumah-Nya,'' lanjut Mukhlis. Di daerah Pasi Lhok (20 kilometer sebelah timur Sigli), juga terdapat masjid kampung yang tegar menghadapi tsunami. Lebih dari 100 warga berlindung di masjid itu untuk menyelamatkan diri dari amukan gempa dan tsunami. Kata ulama di lokasi tersebut, Teuku Kaoy Ali, lima desa di kawasan Pasi Lhok telah hancur lebur, namun masjid di kampungnya tetap berdiri kokoh. Pemandangan lebih dramatik terlihat di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Kota ini berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, sehingga mengalami kerusakan yang sangat parah. Namun, salah satu foto udara yang diambil di kota tersebut menggambarkan ada salah satu masjid yang tetap berdiri meski seluruh bangunan di sekitarnya hancur lebur. Boleh jadi struktur bangunan masjid memang lebih kuat dibanding bangunan lainnya. Namun, hal ini terbantahkan oleh salah satu masjid di Sigli yang mayoritas hanya terbuat dari kayu. Masjid itu tetap tegap berdiri meski bangunan di sekitarnya roboh.  Salah satu masjid yang sangat tua di Aceh, yakni Masjid Indrapuri juga tidak mengalami kerusakan berarti akibat musibah tersebut. Nama Indrapuri diambil dari kerajaan orang-orang Hindu yang pernah berdiri di Aceh. Masjid ini dibangun Sultan Iskandarmuda (1607-1636). Area sekitar masjid Indrapuri memang tidak tersentuh air bah. Namun, guncangan akibat gempa terasa begitu kuat. Mungkin karena mayoritas bangunan terbuat dari kayu termasuk tiang-tiang utamanya guncangan gempa berkekuatan 9 skala richter itu tak mampu menggoyahkan masjid tersebut. Ditulis oleh afp/ap/channelnewsasia/irf
Nanggroe Aceh Darussalam memiliki bangunan peninggalan sejarah dan purbakala yang cukup banyak seperti rumah adat, mesjid kuno, makam-makam kuno, benteng dan lain-lain. Salah satu peninggalan sejarah purbakala yang masih dapat kita jumpai di daerah kita ini adalah di desa Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, sekitar 24 km kesebelah utara dari kota Banda Aceh. Yang dimaksud dengan bangunan bersejarah adalah bangunan atau benda yang telah berusia lebih dari 50 tahun dan mengandung nilai sejarah atau benda dan bangunan yang mewakili gaya yang khas serta dianggap memiliki nilai sejarah. Bentuk dan jenis bangunan purbakala adalah sebuah bekas bangunan peribadatan (candi) yang diatasnya didirikan sebuah mesjid pada periode berikutnya (Mesjid Indrapuri). Saat ini bangunan tersebut lazim disebut Mesjid/benteng Indrapuri, disebut demikian karena letaknya didesa Indrapuri. Berbicara mengenai Benteng Indrapuri kita tidak bisa terlepas dari sejarah masuknya pengaruh budaya Hindu didaerah ini sebagai pendirinya. Jauh sebelum kerajaan Aceh muncul telah ada berita tentang tempat-tempat dan kerajaan didaerah ini. Berita tertua berasal dari Dinasti Han. Dalam Tambo Dinasti Han disebutkan negeri yang bernama Wang Tehe yang penduduknya sama dengan penduduk Hai-nan hidup dari perdagangan dan perampokan. Dalam buku Claudius Ptolomeus seorang ahli ilmu bumibangsa Yunani yang ditulis pada tahun 165 M, menyebutkan satu persatu nama negeri yang terletak pada jalan dengan India-Cina. Dalam periode selanjutnya setelah kedatangan agama Islam di daerah Aceh, tepatnya pada Pemerintahan Sultan Iskandar Muda, diatas pondasi bekas bangunan candi tersebut dibangun sebuah Mesjid. Ini bertujuan untuk dapat lebih memudahkan masyarakat memeluk agama Islam. Mejid Indrapuri ini merupakan pusat kegiatan umat pada masa itu termasuk kegaitan ibadah, pendidikan dan kebudayaan, ekonomi dan politik, sosial dan lain-lain. Dari sini telah banyak menghasilkan Ulama- Ulama dan tenaga-tenaga ahli pembangunan yang disumbangkan untuk kerajaan Aceh Darussalam dan wilayah-wilayahnya yang luas.Mesjid indra puri sebagai ibukota Kerajaan Aceh Darussalam hanya beberapa bulan akibat agresi Belanda yang kedua yang menyebabkan daerah itu direbut oleh Belanda.Sehingga ibukota kerajaan Aceh darussalam dari Indra Puri dipindahkan ke Keumala.,dan membuat bagian selatan dari Keumala yang menjadi tempat kedudukan Sultan kemudian terkenal dengan nama “Keumala Dalam”yang artinya Keumala tampat terletaknya Kerathon Sultan. Peristiwa terakhir yang terjadi dalam Mesjid Indra Puri dizaman jayanya,adalah peristiwa pelantikan Tuanku Muhammad Daud Syah menjadi Sultan Alaidddin Muhammad Daud Syah pada akhir tahun 1874. Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 1:24 PM
 |
|
|
|
| Bangunan anti maling |
|
| Pluralitas etnis di wilayah Nusantara merupakan berkah karena kondisi ini telah memberi kekayaan khasanah arsitektur vernakular yang barangkali keragamannya tak tertandingi oleh negara manapun. Namun uniknya, keragaman itu tetap dijalin oleh satu benang merah yaitu ketahanan mereka terhadap ancaman bencana gempa. Snouck Hurgronje, antropolog Belanda dalam observasinya terhadap hunian masyarakat Aceh di masa kolonial melaporkan bahwa seorang pencuri akan menggoyangkan bangunan untuk memastikan apakah penghuni rumah yang akan menjadi calon korban tidur nyenyak. Bila penghuninya berteriak: “Siapa itu?” maka sang pencuripun akan memutuskan untuk membatalkan aksinya. Laporan Hurgronje memberi gambaran kepada kita bahwa barangkali di jaman dahulu nenek moyang kita tidak sepanik kita saat ini ketika mengalami peristiwa gempa bumi. Labels: Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 12:52 PM
 |
|
|
|
| Sebuah Tradisi |
| Monday, August 27, 2007 |
Raja Sigli saat itu, Panglima Polim Sri Moeda Perkasa Dawood, 1937
Ureung Inong dan Tata Ruang Tradisi
Sebelum mengulas lebih jauh, mari kita bayangkan sejenak struktur asli perumahan tradisional di kawasan gampong (kampung) di kawasan Aceh Rayeuk. Apabila kita memasuki kawasan perumahan tersebut, pertama sekali akan tampak adalah struktur bangunan rumah yang memanjang mengikuti arah kiblat dan tidak mengikut arah jalan. Kedua, bangunan rumah berbentuk panggung dan pada umumnya terdiri dari dua jenis, yaitu ada yang disebut rumoh Aceh dan rumoh santeut atau tampong limong. Rumah Aceh Rayeuk dibangun dalam jarak yang relatif rapat. Antara rumah yang satu dengan rumah yang lain tidak terdapat pagar permanen atau bahkan tidak ada pagar sama sekali. Kita juga akan mendapati pekarangan (leun rumoh) milik bersama. Setiap bangunan rumah biasanya terdiri dari ruang seuramo likeu (serambi depan), jure (ruang keluarga), seuramo likot (serambi belakang) dan dapue (dapur). Di bahagian bawah rumah pula terdapat sebuah tempat duduk yang disebut sebagai panteu.
Panteu, Reunyeun dan Rumoh
Panteu dibuat dari bahan bambu atau kayu dan bentuknya menyerupai meja, dengan ketinggian yang sama atau lebih rendah dari meja. Panteu berfungsi sebagai tempat duduk bagi ahli keluarga ketika waktu senggang. Panteu juga digunakan sebagai tempat istirahat sementara sebelum naik ke rumah, khususnya ketika baru pulang dari tempat kerja. Pada masa dahulu, apabila ada anak gadis (aneuk dara) sedang duduk di panteu, maka anak laki-laki dewasa (yang bukan muhrim) tabu untuk duduk di panteu yang sama. Kadang-kadang panteu juga digunakan untuk menerima tamu yang tidak mungkin di ajak ke rumah. Panteu di bawah rumoh Aceh yang berlantai tinggi terasa lebih nyaman dibandingkan dengan panteu di bawah rumoh santeut yang berlantai lebih rendah.
Reunyeun bagi rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke bangunan rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. khususnya apabila di rumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka 'pantang dan tabu' bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kawalan sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antara warga gampong.
Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban dan keselamatan warga gampong. Sebagai contoh, struktur rumah berbentuk panggung membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga rumah serta ketertiban gampong.
(Sebuah Refleksi Hari Adat Sedunia) Oleh: Sanusi M. Syarif | Pemerhati Kehidupan Gampong
Wanita-wanita Aceh dalam busana tradisional menyambut kedatangan CE Maier di Sigli, 1935

Kantor Kepala Daerah Sigli, ibukota kabupaten Pidie Aceh, 1924Labels: Arsitektur, Nanggroe Aceh Darussalam |
posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 6:57 PM
 |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: Rahmat Rejoni, S.T., M. Si
Home: Bogor, Kota Bogor, Indonesia
About Me: simply, fun
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Links |
|
|
| Other things |
|
| Other things |
|
|
| Other things |
| Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem,
consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus. |
| Powered by |


Subscribe in a reader


|
|