ATJEH JADOEL

 
NAD
Peta Aceh
Looking for..? please
Google
Other things
Other things
Other things

Free shoutbox @ ShoutMix
Sebuah Tradisi
Monday, August 27, 2007
Raja Sigli saat itu, Panglima Polim Sri Moeda Perkasa Dawood, 1937


Ureung Inong dan Tata Ruang Tradisi

Sebelum mengulas lebih jauh, mari kita bayangkan sejenak struktur asli perumahan tradisional di kawasan gampong (kampung) di kawasan Aceh Rayeuk. Apabila kita memasuki kawasan perumahan tersebut, pertama sekali akan tampak adalah struktur bangunan rumah yang memanjang mengikuti arah kiblat dan tidak mengikut arah jalan. Kedua, bangunan rumah berbentuk panggung dan pada umumnya terdiri dari dua jenis, yaitu ada yang disebut rumoh Aceh dan rumoh santeut atau tampong limong. Rumah Aceh Rayeuk dibangun dalam jarak yang relatif rapat. Antara rumah yang satu dengan rumah yang lain tidak terdapat pagar permanen atau bahkan tidak ada pagar sama sekali. Kita juga akan mendapati pekarangan (leun rumoh) milik bersama. Setiap bangunan rumah biasanya terdiri dari ruang seuramo likeu (serambi depan), jure (ruang keluarga), seuramo likot (serambi belakang) dan dapue (dapur). Di bahagian bawah rumah pula terdapat sebuah tempat duduk yang disebut sebagai panteu.

Panteu, Reunyeun dan Rumoh

Panteu dibuat dari bahan bambu atau kayu dan bentuknya menyerupai meja, dengan ketinggian yang sama atau lebih rendah dari meja. Panteu berfungsi sebagai tempat duduk bagi ahli keluarga ketika waktu senggang. Panteu juga digunakan sebagai tempat istirahat sementara sebelum naik ke rumah, khususnya ketika baru pulang dari tempat kerja. Pada masa dahulu, apabila ada anak gadis (aneuk dara) sedang duduk di panteu, maka anak laki-laki dewasa (yang bukan muhrim) tabu untuk duduk di panteu yang sama. Kadang-kadang panteu juga digunakan untuk menerima tamu yang tidak mungkin di ajak ke rumah. Panteu di bawah rumoh Aceh yang berlantai tinggi terasa lebih nyaman dibandingkan dengan panteu di bawah rumoh santeut yang berlantai lebih rendah.

Reunyeun bagi rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke bangunan rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. khususnya apabila di rumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka 'pantang dan tabu' bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kawalan sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antara warga gampong.

Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban dan keselamatan warga gampong. Sebagai contoh, struktur rumah berbentuk panggung membuat pandangan tidak terhalang dan memudahkan sesama warga saling menjaga rumah serta ketertiban gampong.

(Sebuah Refleksi Hari Adat Sedunia)
Oleh: Sanusi M. Syarif | Pemerhati Kehidupan Gampong





Wanita-wanita Aceh dalam busana tradisional menyambut kedatangan CE Maier di Sigli, 1935








Kantor Kepala Daerah Sigli, ibukota kabupaten Pidie Aceh, 1924

Labels: ,

posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 6:57 PM   0 comments
Arsitektur Sumatera Barat
Friday, August 24, 2007


Rumah Gadang Minangkabau

Rumah Gadang Minangkabau yang terkenal dengan gonjong dan rangkiangnya itu sudah dikenal sampai ke mana-mana. Namun yakinlah, tidak banyak orang yang benar-benar tahu dan mengerti dengan rumah gadang tersebut, khususnya dari segi arsitekturnya yang banyak mengandung makna dan filosofi adat dan budaya Minangkabau. Bahkan para arsitek pun merasa perlu untuk mengenal rumah gadang ini sebagai sebuah arsitektur peninggalan budaya.

Kunjungan para arsitek DKI Jakarta yang tergabung dalam Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) DKI Jakarta, yang sengaja menyebut perjalanannya ke Sumatra Barat sebagai “Ziarah Arsitektur Minangkabau” membuktikan itu. Bahkan seperti dikatakan Ahmad Juhara, arsitek yang memenangkan lomba disain restorasi Museum Wayang Indonesia di Jakarta, arsitektur Minangkabau itu sudah lama dikenal luas. Namun sebenarnya, tidak diketahui sama sekali apa dan bagaimana arsitektur Minangkabau tersebut.

“Selain Bali, Minangkabau memiliki kultur budaya yang kuat yang mempengaruhi ciri arsitektur tradisionalnya. Selama ini kita sudah mengetahui tentang arsitektur Minang itu, tapi sebenarnya kita tidak kenal sama sekali,” ujarnya

Selain itu, Juhara juga mengatakan Minangkabau memiliki banyak keragaman yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat, sehingga Sumatra Barat menjadi daerah tujuan pertama IAI DKI dalam melakukan kunjungan ke daerah, yang dilaksanakan dalam rangka pendidikan keprofesian berkelanjutan para arsitek.

Arsitektur Minangkabau sendiri, memiliki banyak makna dalam setiap sudut bangunan bagonjongnya itu. Bukan hanya melekat pada bangunan saja, bahkan sampai kepada tanaman yang ditanam di halaman rumah gadang pun memiliki makna yang melekat dalam adat dan budaya Minangkabau. Aturan dan penataan arsitektur seperti inilah, yang banyak tidak dikenal, bukan hanya oleh arsitek luar Sumbar, namun juga oleh arsitek Sumbar sendiri.

“Sumbar itu memiliki budaya yang kuat, yang juga mempengaruhi dengan kuat kaidah arsitekturnya. Secara umum sangat sulit memahami arsitektur Minangkabau, karena kalau ditanya banyak dijawab dengan pantun adat,” kata Juhara.

Juhara juga mengaku pernah mencoba menanyakan tentang kekayaan arsitektur Minangkabau tersebut saat berkunjung ke Padang beberapa tahun lalu, namun dalam setiap jawaban yang diterimanya selalu terselip pantun-pantun adat yang membuatnya justru bertambah bingung.

Walaupun demikian, baik Ahmad Juhara maupun Ketua IAI DKI Jakarta Bambang Heryudhawan, mengatakan tidak ada salahnya bagi para arsitektur muda Sumbar untuk menampilkan rancangan arsitektur yang mencerminkan gaya zaman sekarang, dan tidak perlu ikut-ikutan dengan gaya arsitektur yang saat ini sedang berkembang. Selain itu, dua arsitek ini juga mengatakan, dengan tidak berkembangnya rancangan bergaya zaman sekarang, tidak perlu khawatir akan melunturkan arsitektur yang menjadi ciri khas daerah.

“Dalam hal ini kita bisa mencontoh Jepang. Arsitektur tradisinal Jepang itu sangat luar biasa. Namun disana arsitektur bergaya zaman sekarang juga tetap berkembang dengan pesat. Sehingga saat ini bisa dilihat, bangunan-bangunan yang ada di Jepang itu terlihat sangat maju dan modern sesuai ciri khas zaman sekarang. Sementara arsitektur tradisionalnya yang indah itu juga tetap terjaga,” kata Juhara.

Juhara menyebutkan, perjalanan ke daerah-daerah untuk berziarah kepada situs-situs arsitektur tradisional memiliki banyak kegunaan bagi kalangan arsitek. Namun dia juga mengharapkan, perjalanan seperti ini tidak hanya menjadi perjalanan rutin yang hanya akan menjadi pengisi agenda rutin IAI saja.

“Jangan sampai kunjungan seperti ini nantinya berubah menjadi seperti kewajiban mengisi absen,” katanya lagi.

Disadur dari Ranah-Minang.Com
http://ranah-minang.com/berita/246.html

Labels:

posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 5:51 PM   0 comments
Arsitektur Sumatera Selatan


Mesjid Agung Palembang

Mesjid Agung Palembang yang terletak di pusat kota juga merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Mesjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748.

Ukuran bangunan mesjid waktu pertama dibangun semula seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.

Perluasan kedua kali pada tahun 1930. tahun 1952 dilakukan lagi perluasan oleh Yayasan Mesjid Agung yang pada tahun 1966-1969 membangun tambahan lantai kedua sehingga luas mesjid sampai sekarang 5520 meter persegi dengan daya tampung 7.750.

Museum Bala Putra Dewa

Museum ini dibangun pada tahun 1977 dengan arsitektur tradisional Palembang diatas areal seluas 23.565 meter persegi dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984.

Pada mulanya museum ini bernama Negeri Provinsi Sumatera Selatan, selanjutnya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 1223/1990 tanggal 4 April 1990 Museum ini diberi nama Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan Bala Putra Dewa.

Nama Bala Putra Dewa berasal dari nama seorang raja Sriwijaya yang memerintah pada abad VIII-IX yang mencapai kerajaan Maritime.

Di museum ini terdapat koleksi yang menggambarkan corak ragam kebudayaan dan alam Sumatera Selatan. Koleksnya terdiri dari berbagai benda histografi etnografi felologi, keramik, teknologi modern, seni rupa, flora dan fauna serta geologi. Selain itu terdapat rumah Limas dan rumah Ulu asli, kita dapat melihat dengan menggunakan kendaraan umum trayek km 12

Labels:

posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 5:29 PM   0 comments
Arsitektur Sumatera Utara


KEUNIKAN ISTANA MAIMOON DAN MASJID RAYA MEDAN

Mungkin kita sudah tidak asing lagi mendengar nama Istana Maimoon dan juga Masjid Al Makmun atau yang lebih dikenal dengan nama Mesjid Raya. Dua tempat yang merupakan peninggalan bersejarah dari masa Kesultanan Deli yang pada sekitar abad XVII. Kini Istana Maimoon dan Masjid Raya dijadikan sebagai object wisata oleh pemerintah Kota Medan.

Ketika kita memasuki gerbang istana, maka kita akan melihat warna kuning begitu mendominasi bangunan ini. Jangan hubungkan dengan warna sebuah partai politik. Kuning adlah warna khas Melayu. Di dalamnya terdapat foto-foto keluarga, perabotan, dan senjata-senjata kuno. Inilah Istana Maimoon yang merupakan peninggalan Kesultanan Deli.

Istana Maimoon terletak di jalan Brigjen Katamso, Medan. Istana ini didirikan oleh Sultan Kerajaan Deli, Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Pendesainnya adalah seorang arsitek Italia, dan rampung pada tahun 1888. Di atas tanah seluas 2.772 m2, bangunan istana berdiri menghadap timur, dan menjadi pusat kerajan Deli. Istana ini terdiri dari dua lantai, terbagi dalam tiga bagian, yaitu bangunan induk, sayap kiri, dn sayap kanan. Di depannya, sekitar 100 meter, berdiri Masjid Al-Maksum yang lebih dikenal dengan nama Masjid Raya Medan.

Memasuki ruangan tamu [balairung] kita akan menjumpai singgasana yang didominasi warna kuning. Lampu-lampu kristal menerangi singgasana, sebuah bentuk adanya pengaruh kebudayaan Eropa. Pengaruh itu juga tampak pada perabotan istana seperti kursi, meja toilet dan lemari hingga pintu dorong menuju balairung . Ruangan seluas 412 m2 ini digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau acara adat lainnya. Balairung juga dipakai sebagai tempat Sultan menerima sembah sujud dari sanak familinya pada hari-hari besar Islam. Lebih jauh lagi, kita pasti akan merasa lelah menelusuri kamar-kamar di dalamnya. Jumlah kamarnya ada 40 ; 20 kamar di lantai atas tempat singgasana Sultan dan 20 kamar di bagian bawah, tidak termasuk kamar mandi, gedung, dapur, dan penjara di lantai bawah.

Menarik jika mengamati desain arsitektur istana ini. Perpaduan antara tradisi Islam dan kebudayaan Eropa amat terlihat. Selain yang terlihat di balairung , dasar bangunan juga menunjukan pengaruh Eropa. Sebagian material bangunan istana memang didatangkan dari Eropa, seperti ubin, marmer, dan teraso.

Pola arsitektur Belanda dengan pintu serta jendela yang besar dan tinggi, serta pintu-pintu bergaya Spanyol menjadi bagian dari Istana Maimoon. Pengaruh Belanda juga terlihat pada prasasti marmer di depan tangga pualam yang ditulis dengan huruf Latin berbahasa Belanda.

Pengaruh Islam terlihat pada bentuk lengkungan atau arcade pada sejumlah bagian atap istana. Lingkungan yang berbentuk perahu terbalik itu dikenal dengan lengkungan Persia, banyak dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, Turki, dan India. Istana Maimoon merupakan salah satu bangunan terindah di Medan. Lokasinya mudah dijangkau, baik dari Bandara Polonia [sekitar 10 km] maupun pelabuhan Belawan[ sekitar 28 km]. Bangunan bersejarah ini terbuka untuk umum setiap hati pukul .0.8.00 sampai 17.00 wib.

Masjid Raya

Masjid Raya ini adalah salah satu peninggalan Kesultanan Deli di Sumatera Utara setelah Istana Maimoon. Masjid ini masih dipergunakan oleh masyarakat muslim untuk sholat [sembahyang] setiap hari. Sebagian bahan-bahannya dari Itali dipergunakan untuk dekorasi masjid ini.

Masjid ini dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan dari berbagai negara di seluruh dunia. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Makmun Al Rasyid. Lokasi dan jarak masjid Raya ini hanya kira-kira 200 meter dari Istana Maimoon. Pembangunan masjid ini dengan arsitektur yang istimewa diilhami oleh Morrish Style.

Selain itu, salah satu masjid milik peninggalan kesultanan Deli lainnya yang dibangun pada tahun 1886. Masjid tersebut adalah salah satu masjid dengan rancangan yang unik bergaya India dengan kubah segi delapan. Masjid Labuhan terletak di jalan raya Medan-Belawan sebelah utara dari pusat kota Medan, kira-kira 13 km dari pusat kota Medan. Kesemuannya itu adalah aset daerah yang dapat dijadikan objek wisata di kota Medan, dan bukti kejayaan kerajaan Sultan Deli.

Labels:

posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 5:16 PM   1 comments
Arsitektur Aceh
Rumoh Aceh

Bagi masyarakat tradisional Aceh, rumah tinggal bukanlah rumah hunian biasa tanpa makna. Orientasi rumah yang selalu diupayakan menghadap ke arah Mekkah (ke arah barat dari Aceh), merupakan ungkap bentuk kecintaan terhadap Islam sehingga mendorong karya arsitektur menyesuaikan jatidirinya.

Selain orientasi rumah yang selalu mengikuti garis imajiner timur ke barat, namun apabila ada penambahan ruang maka dilakukan ke sisi samping (utara atau selatan). Hal tersebut nampak pada arah hadap bangunan ke arah timur sedangkan sisi dalam-sisi belakang yang dianggap sakral berada di sisi barat.

Pembangunan rumoh Aceh tidak hanya harus memenuhi syarat agamawi saja, namun karena harus responsif terhadap alam tropis maka rumoh Aceh hadir dalam bentuk rumah panggung yang nyaman.

Membangun Rumoh Aceh

Bagi masyarakat Aceh, membangun rumah bagaikan membangun kehidupan itu sendiri. Hal itulah mengapa pembangunan yang dilakukan haruslah melalui beberapa persyaratan, seperti pemilihan “hari baik” yang ditentukan oleh teungku (ulama setempat) dan pengadaan acara kenduri dengan upacara peusijuk-nya.

Konstruksi rumoh Aceh berbahan utama kayu-kayu pilihan, begitu pula tiang struktur utama, dinding dan lantai rumah, pintu dan jendela hingga atap rumah dengan penutup dari daun rumbia atau daun pohon sagu.

Apabila persyaratan mutu bahan bangunan benar-benar menggunakan kayu pilihan dan berkualitas bagus, maka rumah Aceh mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Mengenal Rumoh Aceh

Pembagian ruang rumoh Aceh pada umumnya terdiri tiga ruang bertiang 16 atau lima ruang bertiang 24. Menapaki kaki yang lelah setelah berjalan jauh sungguh terasa nyaman ketika masuk ke sramoe reunyen (serambi bertangga) rumah, melangkah masuk ke dalam ruang melalui pintu yang didesain setinggi 120-150 cm, menyadarkan setiap tamu untuk bersikap selalu saling menghormati terutama kepada pemilik rumah.

Ruang utama atau rambat terasa lapang dan luas karena sengaja tidak diisi perabot kursi-meja, namun hanya diisi hamparan tikar ngom lapis tikar pandan yang halus. Tamu umumnya dipersilahkan duduk bersila bersama sang tuan rumah sehingga menghadirkan suasana kehangatan persaudaraan.

Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, rumoh Aceh adalah rumah panggung yang memiliki yup moh atau ruang bawah terbuka yang memiliki peranan penting banyak fungsi seperti (1) digunakan kaum perempuan untuk membuat songket; (2) tempat meletakkan jeungki dan krongs; (3) memudahkan antisipasi terhadap kemungkinan banjir atau ancaman binatang berbahaya; (4) digunakan untuk kandang hewan peliharaan; hingga (5) digunakan sebagai warung atau kios.

Keberadaan Rumoh Aceh kini

Masa kini telah jarang sekali ditemui rumoh Aceh yang dibangun spesifik untuk rumah tinggal, godaan untuk tinggal di dalam rumah beton mendorong mayoritas masyarakat Aceh melepas secara perlahan-lahan akan warisan budaya arsitekturnya.

Selepas tragedi tsunami, banyak sekali peninggalan rumoh Aceh yang asli hilang tersapu badai alam di samping tersapu badai modernisasi. Berdasarkan amatan yang pernah dilakukan, rumoh Aceh asli masih “cukup banyak” ditemui di daerah Kabupaten Pidie dan di desa-desa sekitar kawasan pantai Timur yang tersebar dari Aceh Timur hingga Aceh Besar.

Apresiasi pemerintah setempat terhadap tinggalan arsitektur tradisional ini nampak dibangunnya Museum Aceh yang mengadopsi rumoh tradisonal Aceh di Jl. S.A. Mahmudsyah di kota Banda Aceh maupun nampak di tinggalan rumah Tjut Nyak Dhien di Aceh Besar (nampak di gambar bagian berikut)



Sumber: www.flickr.com by Kunthowibowo


Ungkapan:

“Pintu rumoh Aceh ibarat hati orang Aceh, sulit untuk memasukinya namun begitu masuk akan diterima dengan penuh lapang dada serta kehangatan”.

Labels:

posted by Rahmat Rejoni, S.T., M. Si @ 3:54 PM   1 comments
About Me

Name: Rahmat Rejoni, S.T., M. Si
Home: Bogor, Kota Bogor, Indonesia
About Me: simply, fun
See my complete profile
Previous Post
Archives
Links
Other things
Other things
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis ligula lorem, consequat eget, tristique nec, auctor quis, purus. Vivamus ut sem. Fusce aliquam nunc vitae purus.
Powered by

Free Blogger Templates
Image Hosted by ImageShack.us

Add to Google Reader or Homepage

o-om Tukar Link Tukeran Link Nebulla BLOG http://yalmic.blogspot.com Games4Fun Trik Duit

 Subscribe in a reader

Download ebook gratis
BLOGGER

© 2005 ATJEH JADOEL Template by Rahmat Rejoni

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket